INNER CHILD


Oleh: Dyah Wulandhari


Kita berbincang tentang innerchild. Mengapa demikian besar pengaruhnya bagi pengasuhan dan bagaimana cara kita untuk terlepas darinya

Contoh kasus : 

"saya seorang ibu 1 anak. Dulu semasa kecil mamak saya sering gampar saya tanpa ada yang membela. Saat ini jika saya sedang stress, tanpa disadari, ketika anak merengek saya sering tidak sabar sehingga sering saya tampar hingga berdarah. Dan celakanya saya, jika ayahnya melihat, saya dicekik olehnya"

Jeng... Jeng.. Jeng.... 

Serem banget ya
Ini kasus nyata ya ummahat shalihat.. 

Dan sederet kasus serupa yang kurang lebih sama

Ya Allah..

contoh kasus lain

"Seorang ibu muda, sebutlah panggilannya S, merasa menyesal setiap memarahi anaknya yang masih balita secara berlebihan hanya karena hal yang sebenarnya wajar dilakukan bagi anak seusianya. S padahal tahu tindakannya tersebut salah dan bisa berefek negatif untuk anaknya. S termasuk ibu yang melek ilmu parenting. Ia rajin meng update ilmu parentingnya melalui membaca dan mengikuti beragam pelatihan parenting.

Tapi ilmu parentingnya tersebut seakan menguap ketika ia menghadapi anaknya sendiri. Emosinya menjadi sulit dikendalikan ketika anaknya berulah tidak sesuai dengan harapan S. Setelah ditelusuri, ternyata ibu S juga sering memarahi S secara berlebihan saat S kecil. 

Sebenarnya S sudah bertekad tidak ingin mengasuh anaknya dengan cara pengasuhan yang dulu ia terima saat kecil. Namun entah mengapa secara tidak disengaja ia justru mengulang cara-cara lama yang pernah digunakan orang tuanya walaupun S sebenarnya sangat membenci cara-cara tersebut�.

SAMAKAH ?

Dalam sejumlah konseling banyak kasus yang terjadi kurang lebih membawa "Wiring" yang sama.

Pelaku children abuse atau juga pasangan yang tidak bisa menjalani kehidupan rumah tangga seperti seharusnya, karena mereka belum selesai dengan innerchild nya
1. Apa yang terjadi pada ibu ini adalah inner child negatif yang belum selesai
2. Dan apa yang terjadi pada anaknya nanti adalah dampak dari 'wiring' masalalu ibu dan sekarang 'wiring' ke Anak (wiring/kabel/nyambung)
3. Tugas kita adalah memutus 'wiring' itu salah satunya adalah mengubah pola dengan menterapi inner child negatif pada diri kita

Apakah yang dimaksud dengan inner child?

Menurut John Bradshaw, dalam buku Home Coming: Reclaiming and Championing Your Inner Child (1990), inner child adalah istilah untuk menjelaskan konsep mengenai bagian dari diri kita yang berupa anak kecil, yang perlu untuk dicintai dan dirawat. 

Inner childyang dimiliki masing-masing orang dapat berada dalam kondisi baik atau dalam kondisi bermasalah/trauma. Jika seseorang banyak mengalami peristiwa yang menyenangkan dalam hidupnya, maka inner childnya  akan berkembang dengan baik dan memberi energi positif bagi jiwa dan perilakunya.

Sebaliknya, jika seseorang pernah atau sering mengalami peristiwa yang menyakitkan, maka inner childnya akan stuck di usia saat ia mengalami peristiwa yang menimbulkan luka pada jiwanya.

Inner child dapat menjadi sumber dari vitalitas dan kreativitas seseorang. Namun, inner child sangat rapuh. Ia mudah sekali terluka oleh peristiwa-peristiwa yang sulit, serta oleh perasaan diabaikan, ditolak, kebencian, yang pernah atau masih terus dialami seseorang.

Kebanyakan orang berusaha untuk mengabaikan dan menyangkal inner child mereka. Mereka berusaha untuk melupakan peristiwa tidak menyenangkan yang pernah terjadi di masa lalu. Akan tetapi, ternyata luka masa lalu mereka belum terobati dan menyebabkan masalah di kemudian hari.

Secara tidak disadari, inner child mereka yang terluka mengakibatkan munculnya kecemasan, ketakutan, kemarahan, ataupun depresi yang direfleksikan melalui perilaku yang negatif.  Memaafkan inner child saja tidak cukup, mengubah itu dari pola hidup yang harus dilakukan.

Bagaimana jika kita ingin memutus wiring innerchild negatif ini?
1. Penerimaan inner child dulu
2. Memahami proses terjadinya inner child
3. Memahami dosa 'wiring masalalu' dan tumbuh kembang anak dalam inner child negatif
4. Memahami pemicu
5. Berlatih untuk memberikan jeda ketika akan kambuh
6. Menambah hal hal yang menimbulkan emosi positif pada anak, bermain bersama.
7. Buat lebih simpel urusan kerumahtanggaan, tata letak barang, jumlah, kebersihan, pola menjaga kebersihan dan buat ruangan sesimpel mungkin dengan warna lembut , cerah dan terang
8. Berikan waktu bersama di luar (di alam) ayah bunda dan anak
9. Perbanyak quality time tanpa gadget
10. Diskusi kan dengan pasangan soal ini. Tambah keintiman dengan pasangan untuk relaksasi

Silakan dicoba tips diatas tentunya bukan hal yang mudah untuk suatu perubahan, tapi jika perubahan itu patut diperjuangkan untuk kebaikan kenapa tidak dicoba  ^^
Share on Google Plus

About Anonymous

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments:

Post a Comment